RSS

Arsip Tag: istighfar

Hati yang Bersih

Setiap orang yang beriman senantiasa berusaha membersihkan hatinya :). Sebab kebersihan hati merupakan pangkal dari segala kebersihan diri.  Dari kebersihan diri (salaamatul qulub) akan muncullah kebersihan kata dan ucapan (salaamatul lisan), kebersihan akal dan pemikiran (salaamatul ‘uqul) serta kebersihan perilaku (salaamatul ‘amal)

Sabda junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW: “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah jasadnya seluruhnya. Ingatlah, ia adalah hati (al qolbu).“(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Jadi, jika kita ibaratkan bahwa seluruh jasad atau diri kita adalah sebuah mobil, maka hati merupakan mesinnya. Jika mesinnya tokcer, maka niscaya mobil tersebut akan berfungsi dengan baik. Tapi jika mesinnya rusak, maka mobil tersebut tidak ada gunanya sama sekali betapapun indahnya body mobil tersebut, atau lengkapnya interior dengan segala aksesorisnya.

Demikian pula dengan kehidupan kita di dunia ini. Tujuan utama hidup bukanlah agar kita dapat berbangga-bangga dengan banyaknya harta, kekayaan, pangkat, jabatan, serta kekuasaan. Atau banyaknya harta, kekayaan, pangkat, jabatan atau kekuasaan. Atau banyaknya keturunan, pengikut, pasukan serta pendukung kita. Sebab kesemua hal tadi tidak ada gunanya bagi kita tatkala kita menghadap kehadirat Alloh di hari Pengadilan di Padang Mahsyar kelak. Setiap diri kita masing-masing akan menghadap kehadirat-NYA sendiri-sendiri, tanpa harta maupun keturunan yang dapat menyelamatkan diri kita sedikitpun dari ketetapan azabNYA. Satu-satunya hal yang dapat mempengaruhi keputusan Alloh di saat itu hanyalah kebersihan hati seseorang yang telah dipelihara serta dipertahankannya selama hidup di dunia fana ini.

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.”(QS. Asy Syura (26):88-99)

Alloh SWT menyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa kaitannya dengan hati, manusia hanya memiliki tiga pilihan. Pilihan pertama, hati yang beriman. Inilah hati orang-orang beriman yang akan memperoleh kemenangan baik di dunia maupun di akhirat (QS. 2 : 1-5). Kedua, hati yang terkunci mati. Inilah hati orang-orang kafir yang menolak eksistensi Alloh dengan segala konsekuensinya. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (QS. 2: 6-7). Ketiga hati yang berpenyakit. Inilah hati orang-orang munafik yang secara lahiriah seolah-olah memperlihatkan keimanan serta keislaman dirinya, padahal secara batiniah mereka menentang Alloh dan RasulNYA dan orang-orang yang tersesat tanpa tujuan hidup yang jelas (QS. 2: 8-20).

Kelompok pertama ibarat mobil yang tok-cer dan dapat menghantarkan penumpangnya sampai dengan aman dan selamat sampai ke akhir perjalanan. Kelompok kedua ibarat mobil yang diparkir, tidak bergerak sedikitpun. Tetapi penumpangnya merasa yakin bahwa ia akan sampai ke tujuan dengan mobil tersebut. Suatu hal yang mustahil. Kelompok ketiga ibarat mobil yang sering mogok di tengah jalan sehingga menyebabkan si penumpang seringkali merasa kesal dan tidak sabar. Tetapi untuk pindah mobil ia tidak ingin, sebab kecintaannya sudah sedemikian dalamnya terhadap mobil yang brengsek itu. Akibatnya mobil tadi menjadi beban saja baginya sementara tujuan perjalanan tidak tercapai.

Hati yang beriman ialah hati yang selalu bersih. Bagaimana cara kita menumbuhkan dan memelihara kebersihan hati? yang jelas tidak pakai sabun colek ya  🙂
Ada tiga syarat utama :

Selalu mengharapkan rahmat Alloh.

Betapapun beratnya penderitaan hidup dunia, mereka selalu optimis. Mereka tidak menyesal sehingga pesimis dan menghadapi jalan buntu. Frustasi lantas mengambil jalan pintas dengan jalan bunuh diri. Mereka yakin sangat bahwa hidup di dunia ini penuh perjuangan dan menuntut pengorbanan serta kesabaran. Sebab hanya orang kafir sajalah yang berputus-asa dari rahmat Alloh.
“…dan jangan kamu berputus-asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya tiada berputus-asadari rahmat Alloh, melainkan kaum yang kafir.”(QS. 12: 87)
Optimisme orang yang berhati bersih merupakan optimisme yang optimas. Optimisme yang tidak hanya sebatas masa depan atau hari tua di dunia. Melainkan optimisme yang melampaui hari tuanya, bahkan melampaui masa setelah ia tiada di alam fana, bahkan sampai melampaui masa. Berlakunya kehancuran total dunia ini. Yakni optimisme yang jangkauannya sampai ke hari akhir. Mereka tidak sekedar mengharapkan jaminan masa tua, berupa BTN atau Perumnas. Melainkan harapan akan jaminan di dunia fana sebagai pekerjaan dan hamba Alloh yang gigih bekerja mengharapkan gaji yang secukupnya. Mengharapkan kebahagiaan di akhirat berupa perumin (perumahan mu’minin)!. Untuk itulah mereka senantiasa meniti jalan satu-satunya demi memperoleh rahmatNYA, yaitu jalan yang penuh ketaatan.
“Dan ta’atilah Alloh dan Rasul supaya kami diberi nikmat.”(QS. 3: 132).

Takut akan siksa Alloh
Semakin takut seseorang akan siksa Alloh, maka semakin berani ia menghadapi berbagai resiko karena ketaatannya di jalan Alloh.
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Alloh. Mereka takut kepadaNYA, dan mereka tiada merasa takut kepada seseorangpun selain kepada Alloh.”(33:39).
Sebaliknya, semakin berani seseorang merubah-rubah aturan Alloh, menyatakan yang halal itu haram dan yang haram itu halal, maka akan semakin takut ia menghadapi berbagai resiko karena tidak mengikuti perintahNYA dan menjauhi laranganNYA.
“Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh sendiri tidak menurunkan keterangan tentang hal itu.” (3:151).

Cinta yang amat sangat kepada Alloh.
“Dan diantara manusia ada yang tidak menyembah tandingan-tandingan selain Alloh;mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat-sangat cintaNYA kepada Alloh.”(2:165).
Salah satu tanda bahwa seseorang dapat merasakan lezatnya iman yaitu manakala cintanya kepada Alloh dan RasulNYA melebihi cintanya kepada selain selain kedua pihak tersebut. Kriteria cinta ada tiga :

Mencintai segala apa yang dicintai oleh pihak yang kita cintai. termasuk melaksanakan apa yang diperintahkan

Membenci segala apa yang dibenci oleh pihak yang kita cintai. termasuk menjauhi apa yang dilarang

Siap menghadapi segala resiko dan tantangan demi mengejar cinta dari pihak yang kita cintai

Wallahu a’alam bish showab

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 17, 2011 in akhlak

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Tanda Tanda Amal DIterima

Setelah mengerjakan setiap ketaatan dan ibadah baik itu umrah, haji, puasa, sholat, sedekah, atau amal shalih apapun kita mengulang-ulang bisikan Ali radhiallahu anhu saat berkata: (seandainya aku tahu, apakah amalanku termasuk yang diterima maka aku mengucapkan selamat untuknya, atau yang ditolak maka aku mengucapkan belasungkawa untuknya).

Setelah mengerjakan setiap ketaatan kita juga mengulang perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu: (wahai yang diterima, selamat untukmu, wahai yang ditolak semoga Allah mengganti musibahmu).

Sungguh Ali radhiallahu anhu telah berkata: (jangan kalian pedulikan amal yang sedikit, tapi pedulikan diterimanya amal tersebut), tidakkah kalian mendengar firman Allah Azza wa Jalla ketika berfirman: (Sesungguhnya Allah mengkabulkannya dari orang-orang yang bertakwa) [QS Al-Maidah:27].

Janganlah seperti sebagian kaum muslimin yang tidak peduli diterimanya ketaatan mereka, karena sesungguhnya diberikan taufik dan kemudahan untuk beramal shalih merupakan karunia besar, akan tetapi itu tidak akan terwujud kecuali dengan karunia lain yang lebih besar, yaitu nikmat diterimanya amalan.

Jika seorang hamba mengetahui bahwa kebanyakan dari amalan bisa ditolak dari pelakunya karena banyak sebab, maka yang terpenting adalah mengetahui sebab-sebab diterimanya amalan, jika dia menemukannya dalam dirinya maka hendaklah dia memuji Allah Ta’alaa, dan beramal dengan teguh dan konsisten diatasnya, namun jika tidak menemukannya maka hendaklah hal pertama yang diperhatikannya dari sekarang adalah: mengamalkannya dengan sungguh-sungguh serta ikhlas karena Allah Ta’ala semata.

Maka apakah sebab-sebab dan tanda-tanda diterimanya amalan?

1- Tidak kembali berbuat dosa setelah melakukan ketaatan:

Karena kembali kepada dosa merupakan tanda kebinasaan dan kerugian,

Yahya bin Muadz berkata: ”barangsiapa yang beristighfar dengan lisannya sedangkan hatinya bertekad untuk bermaksiat, dan azamnya kembali kepada maksiat setelah sebulan dan kembali, maka puasanya tertolak darinya, dan pintu diterimanya amalan tertutup didepannya”.

Kebanyakan manusia bertaubat sedangkan dia selalu mengatakan: sesungguhnya aku tahu bahwa aku akan kembali…jangan katakan seperti itu…tetapi katakan: Insya Allah saya tidak akan kembali. Dan memohon pertolongan kepada Allah dan berazam untuk tidak kembali lagi.

2-Takut jika amalannya tidak diterima:

Allah Subhanahu wa Ta’alaa Maha Kaya dari ketaatan dan ibadah kita, Allah Azza wa Jalla berfirman: (Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia) [QS Luqman:12].

Dan Allah Ta’alaa berfirman:

إن تَكْفُرُوا فَإنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ)[الزمر:7)

Artinya: (Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu, dan Dia tidak meridloi kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridloi kesyukuranmu itu) [QS Az-Zumar:7].

Dan seorang mukmin walaupun bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bermacam taqarrub, namun dia merasa sangat kasihan terhadap dirinya, dia takut amalannya tidak diterima, dari Aisyah radhiallahu anha berkata: (Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang ayat ini:

(وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ) [المؤمنون: [ 60

Artinya: (Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dari sedekah dengan hati penuh rasa takut) [QS Al-Mukminun: 60].

“Apakah mereka yang minum khamr atau mencuri?” Beliau berkata: (Bukan yang binti As-Shidiq ! akan tetapi mereka yang berpuasa, sholat, dan bersedekah, sedangkan mereka takut tidak diterima dari mereka, merekalah orang yang bersegera dalam kebaikan).

Meskipun dia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah-ibadah mulia ini namun dia tidak mengandalkan usahanya maupun menunjukkannya kepada Rabbnya, tapi dia meremehkan amalannya, dan menampakkan kefakirannya yang sempurna kepada ampunan Allah dan rahmat-Nya, dan hatinya penuh dengan rasa takut jika amalannya ditolak, Waliyadhu billah, dia memohon kepada-Nya supaya amalannya diterima.

3- Diberikan taufik melaksanakan amal shalih sesudahnya:

Sesungguhnya tanda diterimanya ketaatan seorang hamba bahwa dia diberikan taufik untuk ketaatan sesudahnya, dan diantara tanda diterimanya kebaikan: mengerjakan kebaikan sesudahnya, karena kebaikan tersebut berkata: kebaikan lagi…kebaikan lagi. Dan ini termasuk rahmat Allah Ta’alaa dan karunia-Nya, bahwa Dia memuliakan hamba-Nya jika telah berbuat kebaikan, dan mengikhlaskannya kepada Allah maka Allah membukakan untuknya pintu kebaikan lain, supaya lebih dekat kepada-Nya.

Maka amal shalih ibarat pohon yang baik, perlu disiram dan dipelihara, supaya tumbuh dan kuat, dan memberikan buahnya, dan hal terpenting yang kita perlukan adalah selalu menjaga amalan-amalan baik yang telah kita kerjakan, dan memeliharanya, dan menambahnya sedikit demi sedikit, inilah makna istiqamah yang sebenarnya.

4- Menganggap remeh amalannya serta tidak ujub dan tertipu dengannya:

Sesungguhnya hamba yang beriman berapa banyakpun dia beramal shalih, namun seluruh amalnya tidak menjadikannya bersyukur atas kenikmatan itu seperti kenikmatan pada jasadnya pendengaran, penglihatan, atau lisan dan lainnya, dan tidak merasa telah menunaikan hak Allah Ta’alaa, karena hak Allah diluar gambaran kita, oleh karena itu termasuk sifat orang-orang yang ikhlas mereka menganggap kecil amalan mereka, sehingga mereka tidak takjub dengannya, dan tidak terkena penyakit ghurur yang akan menghapus pahalanya dan membuatnya merasa cukup dan malas untuk beramal shalih lagi.

Diantara hal yang dapat membantu kita menganggap kecil amalan kita adalah: mengenal Allah Ta’alaa, melihat nikmat-nikmat-Nya, dan mengingat dosa-dosa dan kelalaiannya.

Marilah kita merenungkan bagaimana Allah Ta’alaa berwasiat kepada Nabi-Nya dengan hal itu setelah memerintahkan kepadanya dengan perkara-perkara besar:

يا أيها المدثر. قم فأنذر. وربك فكبر. وثيابك فطهر. والرجز فاهجر. ولاتمنن تستكثر).]المدثر: 1-6

Artinya: (Wahai orang yang berselimut. Bangunlah lalu berilah peringatan ! dan agungkanlah Tuhanmu. Dan bersihkanlah pakaianmu. Dan tinggalkan segala perbuatan yang keji. Dan janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak) [QS Al-Mudatsir: 1-6].

Diantara makna ayat ini adalah seperti yang dikatakan oleh Hasan Al-Basri rahimahullah: jangan engkau ungkit amalanmu di depan Rabbmu untuk memperoleh pahala yang lebih banyak.

Imam Ibnu Qayyim: (Setiap engkau menyaksikan hakikat Rububiyah dan hakikat Ubudiyah, dan mengenal Allah, dan mengenal dirimu sendiri, dan menjadi jelas bagimu bahwa barang dagangan yang engkau bawa tidak layak bagi Raja yang Haq, meskipun engkau datang dengan amalan seluruh jin dan manusia, engkau takut akibatnya, dan Dia hanya menerimanya karena kemuliaan, kedermawaan, dan karunia-Nya, serta memberikan ganjaran atasnya juga karena kemuliaan, kedermawaan, dan karunia-Nya) Madarijul Salikin (2/439).

5- Mencintai ketaatan dan membenci kemaksiatan:

Termasuk tanda diterimanya amalan, Allah memberikan kecintaan dalam hatimu terhadap ketaatan, sehingga engkau mencintainya, tenang dan tenteram kepadanya. Allah Ta’alaa berfirman:

(الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ)(الرعد28 )

Artinya: (orang-orang yang beriman hati mereka tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tentram) [QS Ar-Ra’d: 28].

Dan termasuk tanda diterimanya amalan adalah engkau membenci maksiat dan mendekatinya dan berdoa kepada Allah supaya menjauhkanmu darinya.

6- Berharap dan banyak berdoa:

Sesungguhnya takut kepada Allah saja tidak cukup, karena harus dengan pasangannya yaitu berharap, karena takut tanpa berharap menyebabkan putus asa dari rahmat Allah, sedangkan berharap saja tanpa takut menyebabkan rasa aman dari siksa Allah dan semuanya perkara yang tercela yang merusak akidah seseorang dan ibadahnya.

Dan berharap diterimanya amalan disertai rasa takut jika amalannya ditolak menjadikan manusia tawadhu dan khusyu kepada Allah Ta’alaa, sehingga bertambah imannya.

Dan apabila rasa berharap telah terwujud maka manusia mengangkat kedua tangannya ke langit memohon kepada Allah supaya amalannya diterima, karena hanya Dia saja yang Kuasa melakukannya, dan inilah yang dilakukan oleh bapak kita Ibrahim kekasih Allah dan putranya Ismail alaihima salam sebagaimana diceritakan oleh Allah Ta’alaa ketika keduanya membangun Kabah seraya berfirman:

( وإذ يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم)( البقرة:127)

Artinya: (Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail seraya berkata: Ya Rabb kami terimalah amalan kami. Sungguh Engkaulah Maha Mendengar, Maha Mengetahui)[QS Al-Baqarah: 127].

7- Diberi kemudahan melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat:

Subhanallah, jika Allah menerima ketaatanmu Dia memudahkanmu untuk melakukan amalan lain yang sebelumnya tidak dalam persangkaanmu, bahkan Dia menjauhkanmu dari maksiat meskipun engkau dekat dengannya. Allah Ta’alaa berfirman:

(فَأَمَّا مَن أَعْطَى وَاتَّقَى{5} وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى{6} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى{7} وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى{8} وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى{9} فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى{10}) الليل:5-10).

Artinya: (Maka barangsiapa memberikan hartanya dan bertakwa, dan membenarkan pahala yang terbaik, maka kami mudahkan dia kepada jalan menuju kemudahan. Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkannya jalan menuju kesukaran)[QS Al-Lail: 5-10].

8- Mencintai orang-orang shalih dan membenci pelaku maksiat:

Termasuk tanda diterimanya ketaatan, Allah memberikan hatimu rasa cinta kepada orang-orang shalih para pelaku ketaatan dan memberikan hatimu kebencian kepada para pelaku kerusakan dan kemasiatan.

روى الإمام أحمد عن البراء بن عازب رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ((إن أوثق عرى الإيمان أن تحب في الله وتبغض في الله)).

Imam Ahmad rahimahullah telah meriwayatkan dari Barra bin ‘Azib radhiallhu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (sesungguhnya ikatan buhul keimanan yang paling kuat adalah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah).

9- Banyak beristighfar:

Kalau kita merenungkan kebanyakan ibadah dan ketaatan maka hendaklah menutupnya dengan istighfar karena sejauh manapun manusia bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya pasti ada kekurangan dan kelalaian, sebagaimana setelah kita melakukan manasik haji Allah berfirman:

(ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ) (البقرة:199).

Artinya: (Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan beristighfarlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang)[QS Al-Baqarah: 199].

Dan sesudah sholat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk beristighfar sebanyak tiga kali. Dan orang yang melakukan qiyamulail mengakhirinya dengan istighfar di waktu sahur.

قال تعالى : (وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ )(الذاريات18)

Firman Allah Ta’alaa: (dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah)[QS Adz-Dzariyat: 18].

Dan Allah Ta’alaa mewasiatkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam firman-Nya:

(فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ) (محمد:19)

Artinya: (Ketahuilah, bahwasanya Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan mohon ampunlah atas dosamu dan kaum mukminin dan mukminat)[QS Muhammad: 19].

Dan Allah memerintahkan juga kepada Nabi-Nya untuk mengakhiri hidupnya dengan ibadah kepada Allah, jihad di jalan-Nya dengan istighfar seraya berfirman:

(إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ{1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً{2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً{3})النصر

Artinya: (apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu melihat manusia berbondong-bondong masuk kedalam agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan beristighfarlah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun)[QS An-Nashr].

Dan beliau biasa mengucapkan dalam ruku dan sujudnya

( سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، اللهم اغفر لي) رواه البخاري.

Artinya: (Maha Suci Engkau Ya Allah Rabb kami dan dengan memujimu, Ya Allah ampunilah aku) HR Imam Bukhari.

10- Konsisten dalam mengerjakan amal shalih:

Diantara petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah konsisten dalam amal shalih sebagaimana dalam hadits:

فعن عائشة- رضي الله عنها – قالت: (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا عمل عملاً أثبته) رواه مسلم.

Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengerjakan suatu amalan beliau menetapkannya) HR Imam Muslim.

Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( أحب الأعمال إلى الله أدومها وإن قل). متفق عليه.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit).Muttafaqun ‘alaihi.

Mudah-mudahan Allah Ta’alaa menerima semua amalan kita terutama puasa, qiyamul lail, tilawah, sadaqah kita di bulan Ramadhan. (Disarikan dari makalah Sheikh Amir bin Muhammad Al-Mudri imam dan khatib masjid Al-Iman di Yaman)

Source : ar/voa-islam.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 8, 2011 in akhlak

 

Tag: , , , , , , , , ,

Menghadapi Persoalan Hidup

Tips Menghadapi Persoalan bagi Hati

Setiap manusia pasti pernah mengalami persoalan dalam hidupnya. Namun, tidak semua manusia mampu  menghadapi persoalan tersebut dengan baik sehingga  terkadang  persoalan yang seharusnya ringan menjadi semakin parah bahakan tidak selesai. Lalu apakah yang dapat dilakukan untuk menghadapi persoalan tersebut ? Sesungguhnya selesainya  suatu persoalan adalah karena kehendak ALLAH. Akan tetapi manusia memiliki tugas besar untuk berikhtiar menghadapi persoalan tersebut. Berikut tips tips menghadapi persoalan :

Siap

Pada hakikatnya semua pilihan pasti memiliki resiko. Resiko itu ada kalanya disukai dan ada kalanya tidak disukai. Di sinilah, sebagai manusia harus berusaha siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Ketidaksiapan dalam menghadapi suatu masalah seringkali mengakibatkan penyesalan mendalam, tekana n batin dan berbagai perasaan bertemakan penderitaan. Bersiap dengan segala kemungkinan artinya manusia yakin bahwa apapun keputusan Allah atas hidup manusia selalu ada hikmahnya. Segala sesuatu yang disukai belum tentu baik untuk manusia sedangkan segala sesuatu yang tidak disukai belum tentu butuk untuk kita. Allah berfirman dalam Surat Al Baqoroh : 216 yang artinya :

“ Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu.  Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui”

Ridho

Ketika manusia menghadapi persoalan yang cukup sulit hal yang harus dilakukan adalah berusaha mengelola hati  agar bisa ridho atau menerima  peristiwa yang telah terjadi.  Hati yang ridho terhadap ketetapan Allah bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Ridho akan kehendakNya merupakan implementasi atas keyakinan bahwa pada dasarnya manusia hanya bisa berikhtiar sekuat tenaga sedangkan hasilnya ALLAH yang menentukan karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

Tidak mempersulit diri

Ketika mendapat suatu nikmat, manusia sangat jarang bersyukur  maka tak heran  ketika mendapatkan masalah, manusia suka berkeluh kesah bahkan mendramatisir keadaan. Padahal ketika suatu masalah didramatisir, keadaan akan semakin sulit dan jauh dari jalan keluar. Allah memberikan suaut ujian pasti sesuai dengan kadar kemampuan hambaNya.  Dalam cuplikan Surat Albaqoroh : 286 Alla berfirman yang artinya :

“ Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Sesungguhnya Allah menguji manusia untuk membuatnya dewasa dan matang dalam menghadapi tantangan hidup selanjutnya. Saya teringat suatu nasihat dari salah seorang kawan :

satu hal yang membuat kita dewasa adalah masalah

satu hal ang membuat kita maju adalah usaha

satu hal yang membuat kita hancur adalah berputus asa

satu hal yang membuat kita semangat adalah harapan

Harapan itu selalu ada, maka tiada alasan untuk berputus asa dari Rahmat Allah.

 

Pada hakikatnya setiap kesulitan selalu datang bersamaan dengan  kemudahan. Dalam Alquran, Allah menegaskan pernyataan tersebut 2 kali yakni pada Surat Al Insyiraah (surat ke 94),ayat ke  5 dan 6 yang artinya

“ Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, (5). Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)”

Apabila disadari dalam 1 kesulitan terdapat banyak nikmat. Sayanngnya, manusia tidak tau dan tidak mau tau seakan terfkus pada penderitaanya yang terkadang tidak seberapa dibanding siksa neraka. Dunia memang tak seindah surge namun juga tak seseram neraka. Berusahalah menikmati setiap episode dalam kehidupan kita. Setiap  kadar masalah tergantung pada perasaan atau sikap kita dalam menghadapinya. Jadi untuk apa terpuruk dan terperangkap dalam lembah penderitaan yang diakibatkan karena mempersulit diri sendiri.

 

Evaluasi dan introspeksi

Setiap episode kehidupan adalah nasihat berharga.  Untuk mencari makna dari itu semua ,hal yang harus dilakukan adalah introspeksi diri atas masalah yang menimpa. Musibah yang menimpa kebanyakan terjadi akibat perbuatan diri sendiri jadi untuk apa menyalahkan orang lain?

Saya mengambil contoh.  Saya pernah kehilangan sandal  di masjid Terminal Kertajaya, Mojokerto. Sempat terbersit dari pikiran saya, dari semua jamaah yang sholat di  masjid saat itu, mengapa hanya saya yang kehilangan. Pencurinya ini kejam sekali padahal saya sedang butuh sandal tersebut. Kemudian saya merenung. Astaghfirullah…Mungkin selama ini saya memang kurang berbagi, sehingga akhirnya apa yang dititipkan Allah pada saya diambil juga. Mungkin juga selama ini saya juga suka menyianyiakan sandal saya. Sehingga Allah mengambilnya dan menyerahkan pada orang yang bisa menjaga sandal tersebut dengan lebih baik lagi.

Saya semakin mantab dan yakin bahwa setiap perbuatan itu pasti ada balasannya. Allah berfirman dalam surat Al Zalzalah ayat 7 dan 8 yang artinya :

“maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (benih sawi), niscaya dia akan melihat balasannya(7), dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat  zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya (8)”

Sarana evaluasi bukan untuk membuat seseorang mempersalahkan diri saja tetapi juga untuk mengambil hikmah dan berusaha menyikapi  setiap masalah dengan benar. Isa jadi sumber asalah itu ada pada diri kita sendiri. Sehingga kita harus banyak banyak beristighfar karena istighfar (taubat ) yang diterima ALLAH akan mengantarkan kita pada jalan keluar  atas masalah kita.

“Barang siapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Orang beriman itu sungguh luar biasa. Ketika mendapat kebaikan ia bersyukur dan ketika mendapat musibah ia brsabar dan introspeksi.

Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)

Apapun yang terjadi sikapilah masalah dengan baik, buatlah kata kata penyemangat atau affirmasi positif . karena sesungguhnya hal itu menunjukkan bahwa kita yakin ada jalan keluar atas masalah yang ada.

 

Memohon pertolongan Allah

Doa merupakan sarana komunikasi antara hamba dengan pencipta. Selain itu doa juga merupakan wujud ketaqwaan dan ketergantungan hamba terhadap Penciptanya. Sesungguhnya manusia itu lemah tanpa pertolongan dari ALLAH. Mintalah pertolongan pada Allah. Karena semua hanya akan terjadi atas kehendak ALLAH. Memohon pertolongan Allah tentu harus disertai implementasi ketaqwaan kepadaNya  dengan tata cara yang diridhoiNya.

Dalam cuplikan Surat At Thalaq (surat ke 65)  ayat 2 dan 3 Allah berfirman yang artinya…

“…Barang siapa bertaqwa kepada ALLAH niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya (2)dan  Dia memberinya rezki dari arah yang tidak disangka sangkanya. Da barang siapa bertawakkal kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mencukupkan keperluannya….(3)”

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 21, 2011 in renungan islam, wika prima

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,