RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2011

Hati yang Bersih

Setiap orang yang beriman senantiasa berusaha membersihkan hatinya :). Sebab kebersihan hati merupakan pangkal dari segala kebersihan diri.  Dari kebersihan diri (salaamatul qulub) akan muncullah kebersihan kata dan ucapan (salaamatul lisan), kebersihan akal dan pemikiran (salaamatul ‘uqul) serta kebersihan perilaku (salaamatul ‘amal)

Sabda junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW: “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah jasadnya seluruhnya. Ingatlah, ia adalah hati (al qolbu).“(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Jadi, jika kita ibaratkan bahwa seluruh jasad atau diri kita adalah sebuah mobil, maka hati merupakan mesinnya. Jika mesinnya tokcer, maka niscaya mobil tersebut akan berfungsi dengan baik. Tapi jika mesinnya rusak, maka mobil tersebut tidak ada gunanya sama sekali betapapun indahnya body mobil tersebut, atau lengkapnya interior dengan segala aksesorisnya.

Demikian pula dengan kehidupan kita di dunia ini. Tujuan utama hidup bukanlah agar kita dapat berbangga-bangga dengan banyaknya harta, kekayaan, pangkat, jabatan, serta kekuasaan. Atau banyaknya harta, kekayaan, pangkat, jabatan atau kekuasaan. Atau banyaknya keturunan, pengikut, pasukan serta pendukung kita. Sebab kesemua hal tadi tidak ada gunanya bagi kita tatkala kita menghadap kehadirat Alloh di hari Pengadilan di Padang Mahsyar kelak. Setiap diri kita masing-masing akan menghadap kehadirat-NYA sendiri-sendiri, tanpa harta maupun keturunan yang dapat menyelamatkan diri kita sedikitpun dari ketetapan azabNYA. Satu-satunya hal yang dapat mempengaruhi keputusan Alloh di saat itu hanyalah kebersihan hati seseorang yang telah dipelihara serta dipertahankannya selama hidup di dunia fana ini.

“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.”(QS. Asy Syura (26):88-99)

Alloh SWT menyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa kaitannya dengan hati, manusia hanya memiliki tiga pilihan. Pilihan pertama, hati yang beriman. Inilah hati orang-orang beriman yang akan memperoleh kemenangan baik di dunia maupun di akhirat (QS. 2 : 1-5). Kedua, hati yang terkunci mati. Inilah hati orang-orang kafir yang menolak eksistensi Alloh dengan segala konsekuensinya. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (QS. 2: 6-7). Ketiga hati yang berpenyakit. Inilah hati orang-orang munafik yang secara lahiriah seolah-olah memperlihatkan keimanan serta keislaman dirinya, padahal secara batiniah mereka menentang Alloh dan RasulNYA dan orang-orang yang tersesat tanpa tujuan hidup yang jelas (QS. 2: 8-20).

Kelompok pertama ibarat mobil yang tok-cer dan dapat menghantarkan penumpangnya sampai dengan aman dan selamat sampai ke akhir perjalanan. Kelompok kedua ibarat mobil yang diparkir, tidak bergerak sedikitpun. Tetapi penumpangnya merasa yakin bahwa ia akan sampai ke tujuan dengan mobil tersebut. Suatu hal yang mustahil. Kelompok ketiga ibarat mobil yang sering mogok di tengah jalan sehingga menyebabkan si penumpang seringkali merasa kesal dan tidak sabar. Tetapi untuk pindah mobil ia tidak ingin, sebab kecintaannya sudah sedemikian dalamnya terhadap mobil yang brengsek itu. Akibatnya mobil tadi menjadi beban saja baginya sementara tujuan perjalanan tidak tercapai.

Hati yang beriman ialah hati yang selalu bersih. Bagaimana cara kita menumbuhkan dan memelihara kebersihan hati? yang jelas tidak pakai sabun colek ya  🙂
Ada tiga syarat utama :

Selalu mengharapkan rahmat Alloh.

Betapapun beratnya penderitaan hidup dunia, mereka selalu optimis. Mereka tidak menyesal sehingga pesimis dan menghadapi jalan buntu. Frustasi lantas mengambil jalan pintas dengan jalan bunuh diri. Mereka yakin sangat bahwa hidup di dunia ini penuh perjuangan dan menuntut pengorbanan serta kesabaran. Sebab hanya orang kafir sajalah yang berputus-asa dari rahmat Alloh.
“…dan jangan kamu berputus-asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya tiada berputus-asadari rahmat Alloh, melainkan kaum yang kafir.”(QS. 12: 87)
Optimisme orang yang berhati bersih merupakan optimisme yang optimas. Optimisme yang tidak hanya sebatas masa depan atau hari tua di dunia. Melainkan optimisme yang melampaui hari tuanya, bahkan melampaui masa setelah ia tiada di alam fana, bahkan sampai melampaui masa. Berlakunya kehancuran total dunia ini. Yakni optimisme yang jangkauannya sampai ke hari akhir. Mereka tidak sekedar mengharapkan jaminan masa tua, berupa BTN atau Perumnas. Melainkan harapan akan jaminan di dunia fana sebagai pekerjaan dan hamba Alloh yang gigih bekerja mengharapkan gaji yang secukupnya. Mengharapkan kebahagiaan di akhirat berupa perumin (perumahan mu’minin)!. Untuk itulah mereka senantiasa meniti jalan satu-satunya demi memperoleh rahmatNYA, yaitu jalan yang penuh ketaatan.
“Dan ta’atilah Alloh dan Rasul supaya kami diberi nikmat.”(QS. 3: 132).

Takut akan siksa Alloh
Semakin takut seseorang akan siksa Alloh, maka semakin berani ia menghadapi berbagai resiko karena ketaatannya di jalan Alloh.
“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Alloh. Mereka takut kepadaNYA, dan mereka tiada merasa takut kepada seseorangpun selain kepada Alloh.”(33:39).
Sebaliknya, semakin berani seseorang merubah-rubah aturan Alloh, menyatakan yang halal itu haram dan yang haram itu halal, maka akan semakin takut ia menghadapi berbagai resiko karena tidak mengikuti perintahNYA dan menjauhi laranganNYA.
“Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh sendiri tidak menurunkan keterangan tentang hal itu.” (3:151).

Cinta yang amat sangat kepada Alloh.
“Dan diantara manusia ada yang tidak menyembah tandingan-tandingan selain Alloh;mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat-sangat cintaNYA kepada Alloh.”(2:165).
Salah satu tanda bahwa seseorang dapat merasakan lezatnya iman yaitu manakala cintanya kepada Alloh dan RasulNYA melebihi cintanya kepada selain selain kedua pihak tersebut. Kriteria cinta ada tiga :

Mencintai segala apa yang dicintai oleh pihak yang kita cintai. termasuk melaksanakan apa yang diperintahkan

Membenci segala apa yang dibenci oleh pihak yang kita cintai. termasuk menjauhi apa yang dilarang

Siap menghadapi segala resiko dan tantangan demi mengejar cinta dari pihak yang kita cintai

Wallahu a’alam bish showab

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 17, 2011 in akhlak

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

Body Guard itu Bernama Hijab

Ada banyak cerita seru seputar pengalaman tentang hijab. Saya pun tidak akan segan untuk membagi sejarah bagaimana saya berupaya untuk bisa berhijab.

Seingat saya, keinginan untuk berhijab secara istiqomah baru muncul ketika kelas 3 SMP.  Keinginan tersebut tidak berdasar apa-apa ( keluarga tidak menyuruh, kewajiban berhijab belum mengerti , dll) semacam ingin saja. Rencananya, saya bermaksud berhijab ketika masuk SMA sekalian dengan seragamnya. Astaghfirullah ternyata keinginan saya cuma sekedar keinginan, bukan Niat yang sungguh sungguh. sehingga keinginan tersebut belum terwujud ketika masuk SMA. Padahal teman-teman saya waktu SMP sudah  memulai untuk berhijab. tapi entah saya cuek saja. bahkan semakin asyik mengikuti berbagai macam aktivitas yang saya sukai seperti ikut ekskul Pers Sekolah(majalah dinding), Pecinta Alam, Seni Rupa, dll

Beberapa bulan menjelang naik kelas II SMA saya teringat kembali keinginan di masa lalu tersebut. Hal yang pertamakali saya lakukan adalah mengatakan keinginan saya pada Mama (minta doa restu dan…dukungan materi khususnya hehe…terutama untuk membuat seragam baru).ternyata sodara sodara…saya belum mendapat ACC untuk bisa berhijab. Saya ingat betul kata kata Mama waktu itu “Tingkahmu kayak gitu kok njaluk kudungan” (Kelakuan mu seperti itu kok minta berkerudung 😦 ). Rasanya pengen nangis waktu Mama bilang gitu. tapi bener juga sih. Saya suka manjat pagar sekolah, manjat pohon jambu di depan rumah(sekarang uda dibunuh hiks), manjat atap bangsal parkir SMA saya (ada sekitar ketinggian 10 meter), bergelantungan di fly over jalan gajahmada yang dekat Joging Track Mojokerto. dan berbagai macam pelanggaran etika pergaulan (tapi gak sampai pergaulan bebas lho). Sejak saat itu saya tidak mau mengajukan proposal berhijab lagi kepada Mama. ya wes lah. semacam pasrah.

Ketika naik kelas 2  SMA saya bertemu dengan beberapa teman yang sangat baik, kompak, akrab. 7 diantaranya paling sering bersama dalam hal letak tempat duduk, tugas sekolah, main,dll. sehingga  kami berinisiatif menamainya G8 (Genk 8). Suatu hari seusai pelajaran olah raga, kami lewat laboratorium fisika yang kacanya terpantul seperti cermin (secara…wanita gitu loh, suka banget bercermin 🙂 ). Salah seorang teman saya yang bernama R terlihat membetulkan kerudungnya sambil nyeletuk “Wah rambutku kelihatan” dalam beberapa detik kerudungnya rapi kembali. Saya pun yang waktu itu memang belum berhijab ikutan nyeletuk bermaksud bercanda. ” Wah rambutku dari tadi kelihatan”. sesuatu yang tidak Saya duga, Saudari R menjawab “Waah tidak bisa mencium bau surga” (JLEBB… asli saya bergetar dengar kata katanya).Secara tiba tiba saya tidak mood lagi bicara sama si Saudari R langsung menghindar dan lari ke kelas. Tetapi kata kata tersebut saya simpan di dalam pikiran dan ketika pulang sekolah saya langsung pergi ke perpus kabupaten yang letaknya cukup dekat sehingga tinggal menclok aja 😀  saya mencari banyak buku dan subhanallah saya menemukan banyak buku yang menjawab pertanyaan saya selama ini. Ternyataaa…Berhijab itu Wajib sama kayak Sholat.

Rasululloh SAW bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).

Dalam berpakaian, bukan hanya memakai jilbab. Tapi juga menghindari pakaian yang tipis atau ketat yang memamerkan bentuk tubuh.

Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya..”[An Nuur:31]

DAlam beberapa hari setelah membaca buku tersebut, ada beberapa perubahan pada diri saya. Tebak apa? Berhijab ? ternyata belum Sodara! saya mulai membatasi diri dalam pergaulan, gak mau jabat tangan / nyentuh laki laki yang bukan mahram, pake kaos kaki walo belum kerudungan, lebih menertibkan sholat, menjaga tutur kata dan perbuatan. tapi rasanya masih ada yang kurang. Apakah itu? yak saya belum berhijab. konyol sekali rasanya. saya nekat saja kalo keluar (tidak sekolah) saya pake kerudung, tapi kalo sekolah tidak pakai. begitu terus buka tutup kerudung sampai suatu saat Mama semacam kasihan sama saya sehingga Alhamdulillah, Saya bisa pakai seragam yang menutup aurat keesokan harinya.:) 🙂 🙂 😀

BAnyak berkah dari perubahan penampilan saya. dari belum berhijab menjadi berhijab.

1. Saya merasa lebih percaya diri, bebas  bergerak tidak khawatir kalo gerak kesini kesitu ada bagian tubuh yang kelihatan

2. Teman teman cowo jadi sungkan untuk gangguin / ngerjain saya seperti waktu belum berhijab. Alhamdulillah

3. Ada teman yang biasanya ngomongnya kasar, misuh misuh tiba tiba jadi sangat sopan dan halus banget. waw surprise deh B-)

4.  Ini yang buat aku terharu… :’) tidak ada lagi yang meragukan agama saya.  dulu waktu belum berhijab kadang yang gak sungkan tanya ke saya “Satwika muslim, kan? (dengan nada ragu, semacam gak yakin kalau saya muslimah)

5.jadi semakin semangat untuk memperdalam ilmu agama dan ibadah

6. tidak sungkan lagi untuk menolak ajakan yang tidak sesuai dengan prinsip yang saya yakini (ex : saya jadi bisa lebih tegas menolak jabat tangan dengan cowo dll)

7. banyak teman diskusi agama yang tidak sungkan untuk mengingatkan saya untuk menuju kebaikan

8. lebih santun, mungkin karena saya harus berupaya menjaga image muslimah yang berhijab, tetapi bukan sekedar Jaga Image tetapi memang begitulah seharusnya akhlaq muslim

dll yang jelas semacam punya body guard yang bisa menjaga diri saya dari gangguan di dunia dan insyaALLAH terlindung juga dari api neraka

Cerita belum berakhir…setiap perbuatan pasti ada konsekwensinya. Berhijab bukan akhir dari cerita saya, karena setelah memulai maka yang harus dilakukan adalah istiqomah mempertahankannya baik dari segi pemahaman maupun dari segi perbuatan. ketika itu,,,citra Islam sedang cukup buruk mengingat adanya kejadian BOM Bali yang menyudutkan umat Islam sebagai dalang dan pelakunya. Orang tua Saya terutama Mama benar benar khawatir sehingga selalu menanyai tentang pengajian saya bahkan kadang melarang saya ikut suatu kajian. Parahnya saya dianggap ikut aliran yang aneh aneh mengingat kerudung saya yang semakin besar ajah(tidak bermaksud membesar besarkan tapi kan emang harus manutup dada dan menghindari terlihatnya bentuk tubuh). tapi untuk apa saya menangis atas tuduhan tersebut? toh juga tidak benar. memang inilah seni kehidupan. ingin menjadi lebih baik pun ada cobaannya.

tetapi apapun cobaan itu adalah sarana untuk mengetahui sejauh mana kesungguhan kita dalam menjalankan perintahNya. Semoga yang sudah berhijab semakin istiqomah, dan yang belum mendapat hidayah dan kemudahan untuk berhijab

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 4, 2011 in Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,