RSS

Hal Hal Pembatal Pahala Puasa

02 Agu

Oleh Ust. Didik M. Nur Haris, Lc.

Tiada terasa kembali kita berjumpa dengan ramadhan di tahun yang mulia, ia adalah peluang dan kesempatan yang mungkin tidak akan pernah terulang, ia adalah nikmat maka janganlah kita sia-siakan, ia adalah anugerah maka janganlah kita yang pertama kali mengkufurinya.

Ramadhan kembali hadir dihadapan kita sebagai sebuah hidangan lezat bagi jiwa-jiwa yang telah lama merindukan kenikmatan ruhi dan kesyahduan ta’abbudi, ia kembali menyapa untuk memompa iman agar lebih berdaya dan bertenaga, ia adalah madrasah diri dengan segenap fasilitas, kemuliaan dan keutamaannya. Maka patutlah kita berhenti sejenak, saat kita telah berada disepertiga perjalanan ini. Mudah-mudahan ia akan memperbaharui spirit dan membangun kesadaran agar lebih menyempurnakan amaliyah ramadhan di tahun ini.

Ada beberapa perkara yang dapat merusak amalan Ramadhan, baik yang bersifat hissy (lahiriyah pelakasanaan puasa) maupun yang bersifat maknawi. Diantara perkara yang akan merusak pelaksanaan ibadah puasa yang bersifat hissi, ada yang disepakati dan yang diperselisihkan.

1.     Perkara yang merusak amalan Ramadhan yang bersifat hissi

a. Yang disepakati[1]

             1. Murtad, sebagaimana firman Allah SWT:

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

                Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 39: 65)

 

            2. Makan dan Minum Dengan Sengaja,

Allah Azza Sya’nuhu berfirman:

“Artinya : Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam” [Al-Baqarah : 187]

 

           3. Muntah Dengan Sengaja

Karena barangsiapa yang muntah karena terpaksa tidak membatalkan puasanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha’ puasanya”[2]

           4. Haidh dan Nifas

Jika seorang wanita haidh atau nifas, pada satu bagian siang, baik di awal ataupun di akhirnya, maka mereka harus berbuka dan mengqadha’ kalau puasa tidak mencukupinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Bukankah jika haid dia tidak shalat dan puasa ? Kami katakan : “Ya”, Beliau berkata : ‘Itulah (bukti) kurang agamanya”[3]

Dalam riwayat lain:

“Artinya: Berdiam beberapa malam dan berbuka di bulan Ramadhan, ini adalah (bukti) kurang agamanya”

Perintah mengqadha’ puasa terdapat dalam riwayat Mu’adzah, dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Aisyah : ‘ Mengapa orang haid mengqadha’ puasa tetapi tidak mengqadha shalat?’ Aisyah berkata : ‘Apakah engkau wanita Haruri, Aku menjawab : ‘Aku bukan Haruri, tapi hanya (sekedar) bertanya’. Aisyah berkata : ‘Kamipun haidh ketika puasa, tetapi kami hanya diperintahkan untuk mengqadha puasa, tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat”[4]

          5. Suntikan Yang Mengandung Makanan Yaitu menyalurkan zat makanan ke perut dengan maksud memberi makan bagi orang sakit.

Suntikan seperti ini membatalkan puasa, karena memasukkan makanan kepada orang yang puasa. Adapun jika suntikan tersebut tidak sampai kepada perut tetapi hanya ke darah, maka itupun juga membatalkan puasa, karena cairan tersebut kedudukannya menggantikan kedudukan makanan dan minuman. Kebanyakan orang yang pingsan dalam jangka waktu yang lama diberikan makanan dengan cara seperti ini, seperti jauluz dan salayin, demikian pula yang dipakai oleh sebagian orang yang sakit asma, inipun membatalalkan puasa.

 

          6. Jima’

Imam Syaukani berkata (Dararul Mudhiyah 2/22) : “Jima’ dengan sengaja, tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) padanya bahwa hal tersebut membatalkan puasa, adapaun jika jima’ tersebut terjadi karena lupa, maka sebagian ahli ilmu menganggapnya sama dengan orang yang makan dan minum dengan tidak sengaja

Ibnul Qayyim berkata (Zaadul Ma’ad 2/66) : “Al-Qur’an menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum, tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini”. Dalilnya adalah firman Allah.”Artinya : Sekarang pergaulilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian” [Al-Baqarah : 187] Diizinkannya bergaul (dengan istri) di malam hari, (maka bisa) difahami dari sini bahwa puasa itu dari makan, minum dan jima’.

Barangsiapa yang merusak puasanya dengan jima’ harus mengqadha’ dan membayar kafarat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu (dia berkata) : “Pernah datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia berkata, ‘Ya Rasulullah binasalah aku!’ Rasulullah bertanya, ‘Apa yang membuatmu binasa?’ Orang itu menjawab, ‘Aku menjimai istriku di bulan Ramadhan’. Rasulullah bersabda, ‘Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?’ Orang itu menjawb, ‘Tidak’. Rasulullah bersabda, ‘Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak’ Rasulullah bersabda, ‘Duduklah’. Diapun duduk. Kemudian ada yang mengirim satu wadah korma kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda, ‘Bersedekahlah’, Orang itu berkata, ‘Tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa hingga terlihat gigi serinya, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah, berilah makan keluargamu[5]

 

       b.     Yang Diperselisihkan

Diantara perkara yang diperselisihkan di kalangan para ulama, sekalipun yang rajih (pendapat yang lebih kuat) adalah tidak membatalkan, namun ada diantara mereka yang mengatakan batal yaitu:

  1. Orang yang makan karena lupa
  2. Orang yang berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan karena lupa
  3. Obat tetes baik di telinga, mata atau kerongkongan
  4. Segala bentuk suntikan
  5. Bekam
  6. Transfusi darah
  7. Muntah yang terus menerus bukan karena disengaja
  8. Bersiwak yang masih basah setelah tergelincirnya matahari

2.     Perkara yang merusak amalan puasa yang bersifat maknawi[6]

Yang dimaksud dengan merusak secara maknawi adalah bahwa orang berkenaan tidak akan mendapatkan pahala apapun dari jerih payahnya berpuasa. Akan tetapi secara hukum, dia telah melakukan puasa secara lahiriyah, maka tidak dituntut untuk menqodho’ (mengganti) puasanya tersebut. Adapun hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa adalah:

        a. Perkataan Palsu

Dari Abu Hurairah, Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya: Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tetap) mengamalkannya, maka tidaklah Allah Azza wa Jalla butuh (atas perbuatannya meskipun) meninggalkan makan dan minumnya”[7]

        b. Perbuatan Sia-Sia Dan Kotor

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya: Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : Aku sedang puasa, aku sedang puasa “[8]

Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam dengan ancaman yang keras terhadap orang-orang yang melakukan perbuatan tercela ini.

“Artinya : Berapa banyak orang yang puasa, bagian (yang dipetik) dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)”[9]

Sebab terjadinya yang demikian adalah karena orang-orang yang melakukan hal tersebut tidak memahami hakekat puasa yang Allah perintahkan atasnya, sehingga Allah memberikan ketetapan atas perbuatan tersebut dengan tidak memberikan pahala kepadanya.[10]

Demikian pemaparan singkat ini, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga ramadhan merupakan ramadhan yang paling berkesan dalam kehidupan kita. Amin


[1] Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan

[2] Hadits Riwayat Abu Dawud 2/310, Tirmidzi 3/79, Ibnu Majah 1/536, Ahmad 2/498 dari jalan Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, sanadnya Shahih sebagaimana yang diucapkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Haqiqtus Shyam halaman 14.

[3] Hadits Riwayat Muslim 79, dan 80 dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah

[4] Hadits Riwayat Bukhari 4/429 danMuslim 335

[5] Hadits Shahih dengan berbagai lafadz yang berbeda dari Bukhari 11/516, Muslim 1111, Tirmidzi 724, Baghwai 6/288, Abu Dawud 2390, Ad-Darimi 2/11, Ibnu Majah 1617, Ibnu Abi Syaibah 2/183-184, Ibnu Khuzaimah 3/216, Ibnul Jarud 139, Syafi’i 199, Malik 1/297, Abdur Razak 4/196, sebagian memursalkan, sebagian riwayat mereka ada tambahan :”Qadhalah satu hari sebagai gantinya”. Dishahihkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari 11/516, memang demikian.

[6] Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan

[7] Hadits Riwayat Bukhari 4/99

[8] Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 1996, Al-Hakim 1/430-431, sanadnya SHAHIH

[9] Hadits Riwayata Ibnu Majah 1/539, Darimi 2/211, Ahmad 2/441,373, Baihaqi 4/270 dari jalan Said Al-Maqbari dari Abu Hurairah. Sanadnya SHAHIH

[10] Lihat Al-Lu’lu wal Marjan fima Ittafaqa ‘alaihi Asy-Syaikhani 707 dan Riyadhis Shalihin 1215

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2011 in renungan islam

 

Tag: , , , , , , ,

One response to “Hal Hal Pembatal Pahala Puasa

  1. galuhsurya

    Agustus 9, 2011 at 9:10 am

    Bismillah..

    Giliran ana bertamu.. ^^
    Postingannya mantaps..
    Bgaimanapun harus ber’ilmu dulu sebelum ber’amal.. Penting u/ ber’ilmu dg hal2 di atas biar shoum qta menjadi semakin sempurna ^^

    Baarokallohufiyki..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: